Minggu, 08 April 2012

Kamera Bukan Mimpi

            Hidup di Jakarta mungkin terlihat sulit jika tidak ada usaha dan hanya jadi pengangguran. Untuk seorang pengamen jalanan seperti Dio mungkin tidak begitu sulit. Jakarta keras, tapi bisa ia takhlukan. Jakarta itu kejam, tapi tidak untuk Dio yang memiliki seorang ibu yang sangat sayang dengannya. Dio hidup di Jakarta hanya bertiga dengan ibu dan adiknya. Ayahnya telah meninggal dunia dua tahun yang lalu karena sakit. Merantau dari pulau sebrang, mengadu nasip di Jakarta yang penuh dengan kemewahan. Kuliah hanyalah mimpi untuknya, jangankan untuk kuliah, bisa makan tiga kali sehari itu sudah kenikmatan untuk Dio dan keluarganya. Sejak kecil ia bermimpi mempunyai kamera, selalu ia berharap bisa berfoto sekeluarga didepan Monumen Nasional. Tapi kenyataannya lain, ayahnya telah meninggal dunia sebelum ia sempat memiliki kamera dan berfoto bersama. Untuk sebuah kamera yang sangat mahal harganya, Dio hanya bisa menabungkan uang hasil mengamen di celengan ayam yang ia beli diwarung dekat rumahnya. Dia berharap suatu hari nanti ia bisa memiliki kamera itu. Ya, suatu hari nanti.

            Pagi yang cerah, Dio sudah bersiap membersihkan gitarnya dan menyanyikan lagu-lagu yang akan ia pakai untuk menghibur pendengarnya. Sebelum berangkat, ia membantu sang ibu merapihkan dagangan yang akan dijajakannya di kereta api. Sayur matang yang dijualnya mungkin tidak bisa membelikannya kamera, tapi syukurlah itu sudah cukup untuk bersekolah adiknya yang masih duduk dibangku sekolah dasar dan membayar uang kontrakan yang lumayan besar jumlahnya.

Lampu merah adalah nafas untuk seorang pengamen jalanan, termasuk Dio. Menyanyikan satu buah lagu,dan berharap bakatnya bisa dihargai. Panas adalah teman, hujan adalah kawan. Semua ia lakukan untuk membantu ibunya yang sudah tua. Keringat tidak ada artinya asal ia bisa melihat sang ibu bisa tersenyum setiap hari.
Ia yakin suatu hari nanti ia bisa membahagiakan sang ibu dan adik perempuannya. Membelikan sebuah rumah, tak perlu mewah asalkan bisa melindungi dari panasnya terik matahari dan dinginnya air hujan. Semangatnya tak pernah pupus untuk menjadikan adiknya berguna bagi nusa dan bangsa. Harapannya ia bisa melihat adiknya tersenyum memakan toga saat sarjana dan berfoto satu keluarga dengan kamera yang ia punya. Dua hal yang membuat ia bisa bertahan hingga saat ini, yaitu usaha dan doa.
Berdoa dan berusaha, hanya itu yang bisa ia lakukan. Nama ibu dan adiknyalah yang selalu terdengar disetiap pintanya kepada Tuhan. Berharap kedua harta berharganya itu selalu bisa bersamanya sampai nanti, ia tak bernafas lagi.

            sore menjelang malam mengakhiri perjuangan Dio hari ini. ia segera kembali kerumah dan melaksanakan kewajibannya selaku umat muslim. Dalam doanya terdengar suara dan tangisan kecil yang ia panjatkan kepada Tuhan “Tuhan, tak ada yang aku pinta kecuali kebahagiaan orang-orang yang aku sayangi. Melihat ibu dan adikku tersenyum adalah cahaya terindah yang pernah aku lihat. Hanya satu pintaku Tuhan, jangan ambil mereka sebelum aku sempat membahagiakannya” . tetesan air mata yang jatuh adalah tanda betapa sungguhnya ia meminta. Ibunya yang tak sengaja mendengar doanya pun segera memeluknya. Tiada kehangatan yang pernah ia dapatkan selain pelukan seorang ibu.

Keesokan harinya ..

Ia mengamen di sebuah rumah makan yang ada diperempatan Kemang Jakarta Selatan. Menyanyikan sebuah lagu yang sangat merdu. Membuat salah satu pengunjung rumah makan terhenyuh mendengar keindahan suaranya. Tanpa disangka itu adalah seorang produser. Dio segera diajaknya mengobrol empat mata dan ditawarkannya tawaran yang sangat fantastis , yaitu rekaman. Ya itu adalah mimpi Dio sejak dahulu.

“ini mimpi atau aku berhayal Tuhan?” gumamnya dalam hati

Tanpa basa-basi Dio menerima tawaran itu dengan senang hati

            Empat bulan berlalu, hasil rekaman Dio sudah mulai bisa dinikmati oleh penikmat musik. Radio, televisi bahkan media masa. Hari demi hari kesuksesannya mulai terlihat, orang-orang semakin mengenal siapa itu Dio Handika. Seorang pria pengamen jalanan kini beralih menjadi penyanyi solo yang terkenal dan sukses.
Kesuksesannya kini telah ia nikmati. Ia membangun sebuah rumah yang cukup besar, membeli mobil, dan membeli kamera. Akhirnya perjuangan selama ini tidak sia-sia. Sekarang kamera bukanlah sekedar mimpi. Kini kamera menjadi sesuatu yang nyata untuknya. Seperti mimpinya dulu, ia mengajak ibu dan adiknya pergi ke Monumen Nasional untuk berfoto. Dibingkainya hasil jepretan itu, dipandanginya setiap waktu. Senang, tapi sedih. Berfoto bersama keluarga, tapi tanpa Ayah.
“mungkin aku emang belum sempat membahagiakan ayah, memeluk ayah dalam bahagiaku saat ini. kesuksesan yang aku raih tanpa ayah. Foto yang indah sekeluarga tanpa ayah, maaf ayah, selama aku hidup aku belum bisa membahagiakan ayah. Tapi aku janji aku akan membahagiakan ibu dan adik kecilku. Ayah yang tenang disana, seandainya aku bisa membangun rumah yang indah untuk ayah disana, akan kubuatkan rumah untuk ayah dengan cat warna biru muda seperti harapan ayah. Tapi kenyataannya beda, hanya doa yang bisa aku kirimkan untuk ayah. Aku sayang ayah” , kata Dio sambil memeluk bingkai Foto yang ada dimeja kamarnya.

            Pesan dari cerita ini, berusahalah karena didunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Sukses adalah keharusan. Setelah sukses, bahagiakanlah orang tua selagi kita bisa dan kita mampu. Jangan sia-siakan kesempatan yang ada. Bahagiakan secepatnya orang-orang yang kita sayangi selagi masih ada hayatnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar