Kamis, 26 April 2012

Kekasih Untuk Kekasihku


Namaku Elisa, aku adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta. Dikampus aku memiliki sahabat bernama Fika. Dia sahabatku sejak SMP. Kebetulan kami selalu menuntut ilmu ditempat yang sama dari SMP hingga sekarang. Aku dan Fika sudah seperti saudara sendiri. Kami sangat akur. Dibalik kebahagiaanku itu, aku memiliki seorang kekasih bernama Reno yang juga menambah lengkap kebahagiaan hidupku. Aku bertemu dengannya saaat pertama kali masuk kuliah. Sekarang kami semester 5, jadi bisa dibilang hubungan kami sudah cukup lama.
Rintik hujan terus membasahi kampus kami, jam 3 sore seharusnya waktu untuk pulang karena sudah tidak ada kelas tetapi hal ini membuat aku dan pacarku Reno untuk tetap berdiam dikampus hingga hujan reda. Lelah dan lapar membuat kami tak sabar untuk menunggu hujan reda. Akhirnya aku mengajak Reno nekat menerjang hujan.
“langsung pulang aja yu”
“ini kan masih hujan, nanti kamu sakit” kata Reno sembari memainkan kunci motor
“engga ko, lagi juga cuma gerimis aja kan” kataku sambil melihat kelangit
“yaudah, nih kamu pake jaket aku” kata Reno sambil mengenakan jaketnya kepundakku
Akhirnya kita berdua jalan menuju parkiran kampus
Sesampainya diparkiran kampus, Reno segera menyalakan motornya dan bergegas untuk mengantarku pulang. Diperjalanan aku yakin sekali Reno sangat kedinginan, bajunya basah karena jaketnya dia pinjamkan untukku. Aku sangat menyesal karena telah memaksa dia untuk menerjang hujan.
“Reno, aku minta maaf ya gara-gara aku kamu jadi kedinginan”
“ga apa-apa ko sayang” jawabnya singkat
Tanpa basa-basi aku langsung memeluk Reno dari belakang. Reno yang sedang kedingin pun segera memegangi tanganku yang berada diperutnya.


Dua puluh menit berlalu, tibalah aku dan Reno dirumah. Saat tiba dirumahku Reno langsung aku berikan handuk dan menyuruhnya untuk ganti pakaian. Kebetulan kakak aku laki-laki sehingga bajunya bisa aku pinjamkan untuk Reno. Kebetulan kak Andra memilki postur badan yang sama seperti Reno, tinggi, berisi dan dadanya bidang.
Setelah membuatkan teh, aku segera menuju ruang tamu. Aku lihat Reno masih kedinginan, terlihat dari tangan dan bibirnya yang begitu pucat. Karena aku takut sekali jika ia sakit, aku langsung berikan dia obat. Tetapi dia tidak mau. Dia bilang dia sudah membawa obat sendiri. Aku jadi heran mengapa akhir-akhir ini Reno sering sekali membawa obat jika kekampus atau berpergian. Reno juga sering mengeluh jika kepalanya sakit. Belakangan ini Reno juga sering mimisan. Aku takut terjadi apa-apa dengan Reno. Dalam hati aku ingin mencari tahu apakah yang sedang terjadi padanya.
“sayang, belakangan ini aku melihat kamu agak aneh. Kamu sakit ya? Kenapa kamu ga pernah cerita sama aku?”
“sakit? Emangnya kamu liat aku seperti orang sakit? Aku sehat-sehat aja ko”
“kamu jangan bohong ya sama aku” kataku sambil menatap dalam matanya
“aku sehat, sehat banget sayang”jawabnya sembari mencubit pipiku
Cukup lama kami mengobrol dan bercanda-canda, akhirnya Reno pamit untuk pulang. Rasanya baru sebentar aku bersamanya.
Keesokan harinya…
            Reno meneleponku pagi-pagi, dia bilang dia tidak bisa berangkat kekampus dan menjemputku. Katanya dia ingin mengantarkan keluarganya ke bandara. Memang beberapa hari yang lalu Reno cerita jika keluarganya ingin berangkat ke Singapore untuk menghadiri acara pernikahan saudaranya disana. Tetapi Reno terpaksa tidak bisa ikut kesana sebab dia masih ada Ujian Akhir Semester. Aku sangat mengerti keadaan dia, maka dari itu aku pergi kekampus sendiri.
Saat dikampus aku bertemu dengan Fika, Fika mengajakku main ke Mall Of Indonesia  untuk mengantarnya membeli baju baru. Disana Fika bercerita jika dia sedang jatuh cinta, tetapi anehnya dia tidak memberitahu dengan siapa iya jatuh cinta. Ya karena dia bilang itu rahasia, aku tidak bisa memaksanya.
Lama kami berjalan-jalan di Mall, akhirnya kami pulang. Tetapi hari ini Fika mengajakku main kerumahnya. Dia menyuruhku membantu membuatkan tugas proposal yang akan dikumpulkan minggu depan. Mau tak mau aku harus membantunya.
Saat Fika sedang membuatkan minuman, tak sengaja aku melihat buku diary yang berada dibalik selimut. Dengan perlahan aku membacanya. Isinya sungguh mencengangkan.

Dua tahun lebih aku memendam perasaan ini. Perasaan yang menurutku sangatlah tidak pantas. Bagaimana tidak, aku mencintai seorang lelaki yang sudah memiliki kekasih. Parahnya lagi kekasih itu adalah sahabatku sendiri Elisa. Aku sungguh mencintai Reno. Dulu, belum sempat aku ceritakan semua perasaanku, aku dengar kabar bahwa mereka sudah jadian. Tepat satu hari aku ingin meceritakan semua ini kepada Elisa. Sekarang semua sudah terlanjur, aku terlalu bodoh untuk terus menahan perasaan ini. Tapi aku sungguh mencintai Reno, tetapi dibalik itu semua aku sungguh sayang Elisa. Persahabatan yang membuat aku kuat, rasa cinta yang membuat aku bertahan dalam kebodohan ini. Aku tak peduli betapa sakit luka yang aku rasakan, yang aku pedulikan hanya kebahagiaan mereka, orang-orang yang sangat aku sayangi


Tanpa sadar aku mengeluarkan air mata, betapa bodohnya aku telah menyakiti sahabatku sendiri. Tapi ya memang ini semua karena aku tidak mengetahui apa-apa soal perasaan Fika. Aku harus bagaimana tuhan? Aku sayang keduanya, aku tak ingin kehilangan keduanya.
Aku segera mengembalikan diary itu ketemoat semula. Aku hapus air mata yang ada dipipiku. Aku melanjutkan mengetik tugas proposal. Aku anggap semua tadi hanyalah hayalanku saja.
kreeeekkk…”  terdengar Fika membuka pintu kamarnya. Dia membawakan dua gelas berisikan orange juice dan beberapa cemilan
“Fik, istirahat dulu. Eh, lo nginep aja disini. Gue sendirian nih” ajak Fika
“yah gue ga bisa, abis ini gue langsung pulang aja yah. Kasian pembantu gue sendirian. Nyokap belum balik dari Yogya”
“yaudah deh terserah lo” jawab Fika dengan nada kecewa
Tak terasa hari sudah sore, waktunya aku untuk pulang. Fika mengantarkanku pulang sampai pertigaan Mampang, selebihnya aku pulang dengan taksi.
Belum sampai dirumah tiba-tiba Reno meneleponku. Katanya dia sakit, dirumah tidak ada orang kebetulan keluarganya sudah berangkat ke Singapore dan pembantu pun ijin mudik karena ada keluarganya yang sakit. Tanpa basa-basi aku segera putar arah menuju Pondok Indah tempat kediaman Reno.
Sesampainya dirumah Reno, aku lihat dia sedang terkulai lemas. Wajahnya pucat seperti orang sedang kesakitan.
“Ren, kamu kenapa? Wajah kamu pucat, hidung kamu berdarah Ren. Aku panggilkan dokter ya” ajakku panik
“ga usah sayang, aku udah punya obatnya kok dari dokter” jawabnya santai
“yaudah kamu minum ya obatnya ( mengambil obat yang berada diatas meja)”
Saat aku membuka obatnya, aku menemukan secarik kertas. Tetapi Reno menahanku saat aku ingin mengambil kertasnya yang jatuh kelantai. Tetapi karena penasaran, aku tampis tangan Reno. Perlahan-lahan aku buka kertas itu. Sebuah kertas dari laboraturium yang bertuliskan :
“ saudara Reno Aldiansyah positif menghidap penyakit kanker darah stadium 3 “
Dengan tangan gemetar dan air mata yang berlinang, aku segera memeluk Reno. Aku dekap erat seakan itu adalah hari terakhirku bersamanya. Aku menangis sejadi-jadinya didepan dia. Tetapi dia selalu berkata “aku sehat sayang, dokter salah mendiagnosa”. Aku tahu Reno adalah seseorang yang sangat kuat, dia selalu tampak tegar sekalipun dia sedang ada masalah. Aku semakin sayang dengan Reno.
“kamu kenapa nangis? Kamu ga percaya sama aku? Aku sehat” katanya sambil menggengam erat tanganku
“aku takut kehilangan kamu, aku takut kalo kita ga bisa bersama-sama lagi. Aku takut suatu saat nanti tuhan memisahkan kita. Aku takut Reno aku takut”
Tanpa berkata-kata lagi Reno segera memelukku sambil berkata “kamu ga usah takut, aku akan selalu disini sama kamu. Aku bakal terus disamping kamu sampe kita sarjana, sampe kita nikah, sampe kita punya anak, sampe kita tua”
Mendengar kata-kata itu, hatiku langsung tenang. Kata-kata itu meyakinkan aku bahwa Reno akan hidup seribu tahun lagi.
Hari ini sungguh hari yang sangat dramatis


Keesokan harinya,
Semalam Mama baru saja pulang dari Yogya, Mama masuk kekamarku membicarakan hal penting. Sebentar lagi perusahaan Papa akan bangkrut, maka dari itu Mama menyuruh kami semua untuk pindah ke Yogya. Mama menyuruh aku dan kak Andra untuk kuliah disana bersama Bude. Rasa sedih, kesal, kecewa jadi satu. Apa jadinya jika aku pindah ke Yogya sementara pacarku sedang sakit Parah di Jakarta. Tetapi jika aku tetap berada disini, aku telah mengecewakan Mama. Bermacam ide bermunculan di otakku. Bermacam pemikiran gila melintas dibenakku, dan … akhirnya aku menemukan jalan keluarnya.
Keesokan harinya dikampus,
“Fika, ada hal penting yang ma gue certain sama lo”
“apa?” jawab Fika bingung
“maaf sebelumnya gue udah lancang, kemaren ga sengaja gue nemui diary lo dibawah selimut kamar lo, dan tanpa sengaja juga gue baca dilembaran paling akhir. Sekarang gue tau kalo lo sayang sama Reno. Gue ga marah sama lo Fik, sedikitpun gue ga marah kalo lo suka sama Reno. Gue malah seneng Fik, dengan begitu semakin banyak orang yang sayang sama Reno. Gue pengen Fik lo tunjukin ke Reno kalo lo sayang sama dia. Gue sadar kayanya perhatian gue ke dia itu kurang. Dia lagi butuh banget perhatian Fik. Kalo Cuma gue sendiri, kayanya itu belum cukup. Gue mau lo sama gue mencintai dia sama-sama, menyayangi dia sama-sama. Plis Fik gue mohon”
“Lo lancang Lis” jawab Fika ketus sekaligus kaget
“gue minta maaf Fik, tapi ini bukan waktunya kita bertengkar. Gue pengen lo ikutin kemauan gue. Gue ada masalah keluarga, dalam waktu dekat ini gue bakal pindah ke Yogya. Gue kuliah disana dan bakal tinggal selama-lamanya disana. Gue yakin Fik jarak antara Jakarta dan Yogya bakal ngancurin semuanya”
“Lis, lo gila? Hey dimana otak lo? Gue ini sahabat lo yang bodoh Fik, harusnya lo marah sama gue, harusnya lo benci sama gue. Gue gak pantes disebut sahabat. Lagi juga itu kan masalah jarak aja, lo masih bisa kan telponan atau komunikasi lewat jejaring sosial” jawab Fika sambil menggebrak meja kantin
“Fika denger Fika, Reno sakit. Dia sakit parah, dan lo tau apa? Reno kena kanker darah! Dan lo tau apa? Kanker darah stadium 3. Itu artinya hidup Reno udah ga lama lagi. Ga mungkin kan gue disana bisa fokus perhatiin dia”
(Kami berdua saling diam)
Mencoba berpikir jernih, mencoba menemukan jalan keluarnya
Akhirnya kami pun berinisiatif untuk memberikan perhatian Reno dengan cara menjadikan Fika sebagai kekasihnya Reno juga. Dengan begitu aku bisa sedikit tenang karena Reno dirawat oleh dua orang yang sangat mencintainya.
Besoknya kami bertemu di salah satu lestoran cepat saji. Aku, Fika dan Reno. Duduk ssmbil berdiam diri memikirkan apa yang akan dibicarakan. Ide bodohku membuat Reno menjadi ketus dan tak ingin berbicara denganku
.
“kalian udah tau kan maksud gue apa?” kataku membuka pembicaraan
(Fika dan Reno tetap diam)
“Lusa aku udah engga ada diJakarta, aku tau ini terlalu cepat dan ga pernah kalian duga. Aku juga gak pernah menduga bahwa semuanya akan seperti ini. aku harus kuliah dan hidup di Yogya untuk selamanya. Sungguh dengan berat hati aku meninggalkan kalian orang-orang yang aku sayangi di Jakarta. Tapi tenang, kita masih bisa berhubungan kok. Masih ada jejaring social dan handphone. Reno, aku mau kamu jadiin Fika pacar kamu yang kedua. Aku iklas Ren, kamu sayang kan sama aku? Kalo kamu emang sayang, kamu bisa kan Menuhin permintaan aku?” kataku sambil menatap dalam matanya
“kalo kamu emang udah bosen, yaudah bilang aja putus ga usah cari-cari alesan. Kamu malu kan punya pacar yang penyakitan kaya aku? Kamu malu kan punya pacar yang hidupnya udah ga lama lagi , orang yang hidupnya bergantung sama obat? Iya? “ jawab Reno ketus
“aku sayang Ren sama kamu tapi … “


belum sempat aku meneruskan kata-kata, Reno langsung bericara,
“oke kalo itu kemauan kamu, aku ikutin. Mau kamu sekarang aku nembak Fika iya? Jadii dia pacar kedua aku iya? Tapi kalo aku ga bisa sayang sama Fika, jangan paksa aku. Jangan salahin aku kalo aku sayangnya Cuma sama kamu” jawab Reno dengan mata yang berkaca-kaca.
“Fik, lo mau kan jadi pacar gue?” kata Reno yang menyatakan cinta ke Fika didepan aku
Fika langsung melirik kearahku dengan mata yang berbinar-binar “ iya Ren gue mau jadi pacar kedua lo”
Aku tersenyum puas walaupun kenyataannya hatiku sangat sakit. Mulai sekarang aku dan Fika resmi menjadi kekasihnya Reno. Dengan begitu aku bisa tenang di Yogya. Aku tidak begitu khawatir akan keadaan Reno di Jakarta. Karena sekarang ada Fika yang akan merawat Reno. Demikianlah kisah dua orang sahabat yang rela berbagi hati, bukan karena kita serakah, melainkan membahagiakan orang yang kita cintai. Seharusnya cinta sejati seperti ini, merelakan kebahagiaan kita sendiri demi membahagiakan orang yang kita cintai. Walaupun kelihatannya egois, memaksakan perasaan orang lain demi keinginan kita, tapi dibalik itu semua ada makna dari sebuah pengorbanan dan ketulusan. Cinta dan kebahagiaan memang tidak harus selalu bersama, tetapi keduanya saling berhubungan berjalan beriringan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar